Alternative flash content

Requirements

Get Adobe Flash player

Asal Usul Pasta Gigi Dinamakan ‘Odol’

Oleh : Gustaaf Kusno

 

Pernahkan terbersit dalam pikiran Anda mengapa pasta gigi yang kita pakai setiap hari dinamakan ’odol’? Inilah jawabannya. Dia berasal dari merk pasta gigi bernama ’Odol’ yang amat tersohor di zaman dahulu, termasuk di tanah air kita yang kala itu masih di

bawah penjajahan Belanda. Pasta gigi dengan wadah berwarna biru muda mampu menggeser pemakaian tumbukan batu-bata dan bubuk buah pinang (areca nut) yang kala itu masih banyak digunakan penduduk kita untuk menggosok gigi. Namun seperti layaknya dengan istilah-istilah bahasa Belanda lainnya, masyarakat kesulitan untuk mengucapkan kata tandpasta (tand = gigi) ini. Alhasil, diambillah jalan termudah dengan menyebut nama merknya, yaitu ’odol’.

Pada gambar terlihat dua contoh iklan zaman baheula pasta gigi ’Odol’ ini. Iklan yang di sebelah kiri bertuliskan Mooie Tanden yang bermakna ’gigi geligi yang indah’, sedangkan iklan kuno di sebelah kanan bertuliskan zahnpasta yang merupakan kata bahasa Jerman dengan makna yang sama. Ya, nampaknya ’Odol’ ini diproduksi di Jerman, tetapi berbeda dengan di Indonesia yang sudah lama tidak beredar lagi, di negara asalnya hingga saat ini pasta gigi ’Odol’ ini masih tetap eksis. Bahkan pasta gigi ’Odol’ ini juga dipasarkan di kawasan negara-negara Eropa seperti Ceko, Hungaria, Belanda dan sebagainya. Pasta gigi ’Odol’ sudah berpuluh tahun yang lalu hilang dari peredaran di negeri kita, namun dia meninggalkan warisan kata yang masih digunakan hingga saat ini yaitu ’odol’.

 

 

kolonye dan wibert

Kata lain yang juga diserap dari merk minyak wangi atau parfum adalah kolonye. Merk dari minyak wangi tersebut adalah 4711 eau de cologne. Sama halnya dengan kata tandpasta yang cukup sulit dilafalkan oleh lidah orang Indonesia, eau de cologne (yang bermakna ’air dari Cologne’) juga menjadi kendala untuk diucapkan dengan benar sesuai dengan lafal Perancis. Akhirnya diambillah jalan tengah dengan mengucapkannya sebagai ’kolonye’. Dewasa ini produk minyak wangi ’4711’ ini tidaklah semasyur tempo dulu karena telah bermunculan produk-produk parfum saingannya, namun kata ’kolonye’ masih tetap bertahan dalam kosakata bahasa kita. Sekedar untuk pengetahuan kita nama 4711 ini diambil dari nomor rumah tempat kolonye ini pertama kali disuling.

Bilamana Anda datang dari generasi yang lahir di bawah tahun 60an, maka ada satu produk luar negeri yang cukup tenar pada masa itu yaitu Wybert (lihat pada gambar). Wybert adalah sejenis pastiles (obat isap) berbentuk jajaran genjang yang biasa dikulum untuk mereka yang sedang menderita batuk. Lambang gambar silhoutte orang yang membuka mulut di depan pastiles ini bisa ditemui di mana-mana. Sedemikian terkenalnya pastiles untuk mengobati tenggorokan yang gatal ini, kala itu kata wibert sudah identik dengan ’obat batuk hisap’ ini. Pada masa sekarang ini, mungkin generasi muda tidak begitu familiar dengan kata ’wibert’ ini, tetapi dengan melihat gambar iklan yang khas ini, saya bernostalgia kembali dengan kata yang pernah ’berjaya’ ini : wibert.

gilette alias silet

Dan seterusnya kita memusatkan perhatian pada kata yang tidak asing lagi yaitu silet. Ini adalah kosakata yang diserap dari merk pisau super tipis ’Gilette’. Karena pelafalan kata ini memang berbunyi ’silet’, maka dalam waktu singkat dia menjadi tenar dan diterima dalam kosakata bahasa kita. Bukan saja sebagai kata benda, tetapi juga sebagai kata kerja yaitu ’menyilet’. Disebut apakah benda kecil ini dalam bahasa Inggris? Dia dinamakan razor dan ada metafora razor-edge yang bermakna ’dalam situasi yang kritis’. Nama merk yang juga diserap menjadi kosakata kita adalah vespa. Disamping kita biasanya mengatakan ’naik sekuter’ cukup sering kita mengatakan dengan ’naik vespa’.

Adakah kata-kata semacam ini di khazanah bahasa Inggris? Tentu saja ada, misalnya istilah kleenex (merk tisu), xerox (misalnya pada kalimat would you please xerox this document), band-aid (dari nama merk plester). Bahasa memang tidak pernah berhenti berkembang seturut dengan perjalanan peradaban manusia yang menggunakannya.

Sumber : http://sosbud.kompasiana.com/

 
000168909
Hari iniHari ini179
KemarinKemarin574
Minggu iniMinggu ini2958
Bulan iniBulan ini11786
TotalTotal168909